Sumbangsih Paulo Freire bagi Pendidikan Kristen di Indonesia

SUMBANGSIH PAULO FREIRE

Iklan

ANDAI IA SANGKALI KAYU PALANG ITU- If He Denies the Cross

Kematian Kristus menjadi basis pendidikan humanis dan humanis dalam mendidik.

Dalam doaMu di Gethsemani, Engkau sedang menggumulkan yang tak harus Kau gumuli; Engkau menggumuli beban yang bukan bebanMu. Yang Engkau gumuli, bukan sebagai tanda ketakutan atas kayu palang itu. Kayu palang itu tidak membuatMu gentar. DoaMu mengingatkan manusia, betapa berat dan kejinya dosa.

Dalam doaMu itu, Engkau ingin katakan, itu kayu palangMu, pikullah. Hanya saja, dalam doaMu, Engkau tak menolak kayu palang itu, malahan Engkau dalam kerelaan hatiMu sebagai tanda kekudusan dan keilahian diri, menerima kayu palang itu. Penyangkalan diri dan penerimaan kayu palang itu sebagai milikMu, tanda Engkau adalah Allah. Melalui kayu palaing itu, Engkau menerima beban manusia.

Dalam doaMu, kayu palang itu Engkau terima dan KehendakMu Engkau tempatkan di bawah kehendak Bapak. Penyangkalan diriMu dan penerimaan kayu palang itu, membuat rupaMu tak dikenali, direndahkan, dilecehkan, dan terkutuk. Engkau berteriak, namun bukan tanda keputusasaan atas kayu palang itu. Elo (hi) elo (hi) sabakhtani sebagai tanda dan pesan kepada manusia dalam segala abad. Pesan bahwa dosa dapat memisahkan manusia dari Tuhannya; dosa dapat membuat Allah memalingkan wajahNya; dosa membuat Allah meninggalkan manusia, ciptaan termuliaNya.

Dalam doaMu, kayu palang itu Engkau terima sebagai tanda bahwa manusia adalah makhluk termulia di antara ciptaan, sebab Engkau yang berkata ha adam, `oto, `otam. Bahkan pemazmur berkata “siapakah anak manusia sehingga engkau membuatnya hampir sama seperti diriMu?. Penerimaan kayu palang itu sebagai tanda Engkau mengingat buatan tanganMu.

Penerimaan kayu palang itu, tidak hanya “pengakuan” namun “tindakan” sebagai bukti pengakuan.

Sebuah penawaran diajukan kepada Bapa, jika mungkin-if it possible? Not possible. Sebab melalukan cawan, bukanlah kehendak Bapa. Menolak palang itu, itu bukan kehendak Bapa sebab tidak ada yang layak; mencoba untuk tidak taat kepada kehendak Bapa, itu bukan kehendak Bapa. Engkau merelakan diri merasakan anggur masam itu; membiarkan diri dianggap berdosa; membiarkan diri menerima kayu palang itu sebagai kehendak Bapa. Engkau tidak menolak kayu palang itu sebagai bentuk melemparkan tanggungjawab sebagai “substitutor atau pengganti”, Engkau tidak menyangkali kayu palang itu sebagai kehendak Bapa, Engkau justru menyangkali diri demi kayu palang itu, yang sesungguhnya Engkau sangkali diri demi Aku. Engkau tidak menyangkali kayu palang itu demi diriMu. Kayu palang itu sebagai tanda penyerahan diri, hak, sikap egois, apatis, kemunafikan. Kayu palang itu berbicara dengan lantang tentang penerimaan diri dan sesama. Bernada “mayor” tentang humanitas bukan “monor” tentang hak-hak individualitas.

Andai Kau menolak kayu palang itu, aku pasti menempuh jalan yang panjang dan terjal, aku pasti memikul kuk yang berat dan menekan. Engkau menerima kayu palang itu, sehingga kuk yang ku pikul menjadi ringan.

Catatan:

Kematian Kristus menyediakan konsep humanitas dalam segala aspek. Khususnya dalam pendidikan, kematian Kristus menghadirkan konsep pendidikan yang humanis.